Langsung ke konten utama

Postingan

Sudahkah kita berkepribadian Khadijah, saat mengharap sosok Muhammad?

Bismillahhh... Sudah sering, Hadist Riwayat Bukhari ini kita dengar, Nabi saw sedang bercengkrama di depan rumah mereka. Tiba-tiba melintaslah seorang perempuan tua. Nabi saw segera mempersilahkan perempuan tua itu masuk rumah, digelarnya sorban sebagai alas duduknya. Keduanya lalu bercakap-cakap. Saat perempuan tua itu berlalu, Aisyah menanyakan perihal tamu yang terlihat sangat istimewa dimata nabi. “Perempuan tua itu mengingatkanku pada Khadijah, saat dia masih hidup, perempuan itu sering datang kerumahnya, dan Khadijah selalu menyambutnya dengan penuh rasa hormat. Aku menghormatinya sebagaimana Khadijah dulu melakukannya.”cerita Nabi Muhammad saw. Aisyah sepertinya cemburu mendengar penuturan itu, seperti wanita normal lainnya, hingga tak sadar ia berkata,” Masih saja menyebut-sebut perempuan yang sudah mati itu. Bukankah sekarang telah ada perempuan pengganti yang lebih baik dari dirinya?” Mendengar perkataan istrinya, Aisyiah, Nabi saw nampak memerah raut wajahnya, sepe...

Cuma Dua

Bismillah.. " Mba Bila, tolong terima Hamzah apa adanya dan dampingi terus dia sampai menjadi pemimpin ummat" Ummi baruku yg sah per beberapa menit lalu berucap sambil basah pipinya. Kemudian, aku yg bersimpuh dengan baju akad dihadapannya mencium ta'zim lagi tangannya. Sungguh tidak ada lagi kata tambahan.Ruang di Puri Ardhyagarini lengang, menatap kami sebagai para aktor utama -aku dan suami yang bersimpuh memohon restu, dan para Ummi Abi yang duduk dikursi menahan haru. Cuma dua, Dua pesan yang aku tahu sangatt berat dimulai 8 Februari yang lalu :) Cuma dua, Dua pesan tugas dari Ummi Dyah yang akan aku selesaikan hingga ujung hayat, -yah untuk kemudian berbahagia dipertemukan lagi di syurgaNya- Cuma dua, Dan sekarang, Di bulan ke lima pernikahan kami, Aku... Takut.... Bagaimnaa untuk terus mendampinginya maksimal sebelum keberangkatannya kelak ke negeri ratu Elizabeth yang hanya tinggal hitungan pekan.. Bagaimana? *Matahari #29HariMenulisCin...

Allahumma Bariklanaa....

Awal Ramadhan tahun 2017, bagi kami, Saya, Debay, dan Suami. Sedang berikhtiar maksimal menjadikan momentum besar sebagai Madrasah ruhiyah, Kami berangkat dari hal yang sederhana, Pemaknaan doa pendek, yang biasa dibaca anak TK hehe... Do'a pertama yang kami maknai adalah, Do'a makan :) Hehe, rutinitas jama'i paling dasar untuk setiap pasangan kan? Tentu semua sudah hafal do'anya: الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ "Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar" Artinya : Yaa Allah, berkatilah rezeki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka Dan, setelah 23 tahun, saya baru sadar, Do'a ini super sekali ya :') 'Yaa Allah', merefer kepada siapa kita bermunajat, memohon dan bersender. 'berkatilah', merujuk kepada harapan supaya penuh manfaat, kebaikan tanpa henti. Tanpa henti loh. Sekali lagi, tanpa henti . 'rezeki yang engkau ber...

Adakah....

Bismillah... Adakah yang lebih mulia dari bersiap menjadi Ibu? Mual dan bertambah payah yang bertambah-tambah... Adakah yang lebih membanggakan dari bersiap mejadi Ibu? Kala yang wanita lain masih banyak yang menunggu.. Mata Hari

Perihal Mendengarkan

Bergumam, Sudah.... banyak-banyak menyimak dan belajar, jangan menuntut siapa-siapa untuk mendengarkan atau memahamimu bulat-bulat. Tapi, lucu memang, mungkin belum sabar, karena memang sabar tanpa batas, saat sudah di tepi luapan. Pengen pergi aja ya... biarin lah ya, gausah repot-repot mikirin :) yang penting kerjaan gua beres.. Tapi apalah, bukan sebatas, urusan ini kerjaan gua atau bukan, tapi rasa gelisah atas ketidaksinergisan.. ironis ya. Memalukan. Memang lebih baik bungkam sekalian. sekali bicara malah timbul prasangka. lucu memang, untuk apa kompromi dengan manusia, kebenaran akan tampak jika memang Allah izinkan. kemudahan akan diberikan karena memang Allah yang tentukan, dan, rasa lapang,dimuliakan, kepercayaan itu, Allah yang tentukan kapan siap dimahkotai dan direnggut :) Mata Hari

mungkin di jalan yang lain yang lebih sepi, atau di cafe yang lain yang lebih terasing

Bismillahirrahmanirrahiim.... Sudah lama aku mengejar dan mencari rasa tenang.. aku memutar roda, mengendara membelah sepi. Menekan klakson dalamdalam supaya sepi takut mendekat.. tapi lihat kan, sepi malah bersam angin makin menyelimut penuh badan, terasa hingga ujung kuku kaki. Ku parkir dan mencari cafe paling tenang, mencicip tawaran rasa coklat hangat, memilih harga tertinggi. Kuharap, uangku bisa membeli rasa hangat dari seruput coklat yang disajikan waitress waitrees berpakaian rapi dan bersenyum manis. Ku ulang berhari hari, Berkali kali. Membisiki batin. “mungkin di jalan yang lain yang lebih sepi, atau di cafe yang lain yang lebih terasing” Direktori, September 2015 Mata hari